Nama - Nama Bupati Aceh Utara Dari Masa Ke Masa

Berikut ini adalah daftar Nama-nama Bupati Aceh Utara dari masa ke masa :

1. T. Muda Husin 1945 s/d 1946

2. Tgk. Sulaiman Daud 1946 s/d 1949

3. Tgk. H. Ibnu Saadan 1949 s/d 1952

4. Tgk. H. Usman Azis 1952 s/d 1953

5. T. Muhammad 1953 s/d 1954

6. H. AR Hajat 1954 s/d 1958

7. Tgk. H. A. Wahab Dahlawi 1958 s/d 1960

8. Tgk. H. Usman Azis 1960 s/d 1965

9. T. Ramli Angkasah 1965-1967

10. Tgk. H. A. Wahab Dahlawi 1967 s/d 1972

11. M. Husin 1972 s/d 1973

12. Abdullah Yacob 1973 s/d 1978

13. Mohd. Ali Basyah 1978 s/d 1983

14. Mohd. Ali Basyah 1983 s/d 1988

15. H. Ramli Ridwan 1988 s/d 1993

16. Karimuddin Hasyibullah 1993 s/d 1998

17. Tarmizi A Karim 1998 s/d 2004

18. T. Alamsyah Banta Agustus 2004 s/d Maret 2005

19. Tarmizi A Karim Maret 2005 s/d Maret 2006

20. T. Pribadi Maret 2006 s/d Maret 2007

21. Ilyas A Hamid Maret 2007 s/d September 2011

22. M Ali Basyah September 2011 s/d Juni 2012

23. Muhammad Thaib Juli 2012 s/d sekarang




Nama-nama Bupati Aceh Barat Dari Masa Ke Masa

Berikut ini adalah daftar nama-nama bupati dan mantan bupati Aceh Timur dari awal kemerdekaan indonesia sampai dengan sekarang

.1. H. IBNU SA’DAN 20-09-1945 S/D 15-06-1947 

2. ABDUL WAHAB 15-06-1947 S/D 22-09-1948 

3. ABDUL GAFUR AKHIR07-08-1957 S/D 28-08-1958 

4. TUANGKU ABDULLAH 28-08-1958 S/D 11-01-1959 

5. H. DAUD DARYAH 11-01-1959 S/D 07-10-1961 

6. T. RADJA MAHMUD 07-10-1961 S/D 31-12-1961 

7. MAYOR HAMIDI HS 15-01-1962 S/D 07-07-1964 

8. OESMAN NOERDIN 16-07-1964 S/D 07-02-1966 

9. A.K. ABDULLAH 07-02-1966 S/D 08-04-1967 

10. DRS. A.R ISHAK 08-04-1967 S/D 19-10-1972 

11.  A. RANI 19-10-1972 S/D 22-02-1973 

12. DRS. SYAMSUNAN MAHMUD 22-02-1973 S/D 06-05-1978 

13. DRS. T. USMAN MAHMUD 06-05-1978 S/D 25-07-1983 

14. MALIK RIDWAN BADAI, SH 14-11-1983 S/D 14-11-1988 

15. DRS. TEUKU ROSMAN 14-11-1988 S/D 24-03-1998 

16. DRS. H. NASRUDDIN, M.SI 1998 S/D 08-2004 

17. DRS. SYAHBUDDIN BP, MM 08-2004 S/D 03-2005 

18. DRS. H. NASRUDDIN, M.SI 18-03-2005 S/D 29-03-2006 

19. DRS. SOFYANIS 29-03-2006 S/D -10-2006 

20. H. T. ALAMSYAH BANTA 20-10-2006 S/D 23-04-2007 

21. H. RAMLI. MS, S.PD, M.SI 23-04-2007 S/D 23-04-2012 

22.. H. RAMLI. MS, S.PD, M.SI 23-04-2012 S/D SEKARANG

Nama-nama Bupati Aceh Timur Dari Masa Ke Masa


Berikut ini adalah daftar nama-nama bupati dan mantan bupati Aceh Timur dari awal kemerdekaan indonesia sampai dengan sekarang.

1. T.M. Daoedsjah  1945-1946 
2. T. Radja Pidie 1946 
3. T. Ali 1946 

4. T. A. Hasan 1946-1948 
5. Tgk. Maimoen Habsjah 1948-1952 

6. Ibnu Saadan 1952 
7. Zaini Bakri 1952-1953 
8. T. Madja Purba 1953-1954 
9. M. Kasim 1954-1955 
11. Kamaroesid 1956-1958
12. Tgk. Mohd. Daoed 1958-1959 
10. Moenar Sastro Amidjojo 1955-1956 
13. T. Djohansjah 1959-1967 
14. Muhammad Hasbi Usman 1967 
15. Muhammad Nurdin 1967-1973 
16. Drs. Ayub Yusuf 1973-1977 
17. Drs. Zainuddin Mard 1977-1983 
18. Drs. T. M. Bachrum 1983-1984 
19. Drs. Zainuddin Mard 1984-1989 

20. M. Noeh A.R. 1989-1994 
21. Alauddin A.E. 1994-1999 
22. Drs. Azman Usmanuddin, M.M 1999-2006 
23. Ir. Azwar A.B., M.Si 2006-2007 
24. Tgk. Muslim Hasballah 2007-2012 
25. Tgk. Hasballah M Thaib 2012-sekarang

Daftar Kode Telpon Di Aceh

0627 - Kota Subulussalam
0629 - Kutacane (Kabupaten Aceh Tenggara)
0641 - Kota Langsa
0642 - Blang Kejeren (Kabupaten Gayo Lues)
0643 - Takengon (Kabupaten Aceh Tengah)
0644 - Bireuen (Kabupaten Bireuen)
0645 - Kota Lhokseumawe
0646 - Idi (Kabupaten Aceh Timur)
0650 - Sinabang (Kabupaten Simeulue)
0651 - Kota Banda Aceh - Jantho (Kabupaten Aceh Besar) - Lamno (Kabupaten Aceh Jaya)
0652 - Kota Sabang
0653 - Sigli (Kabupaten Pidie)
0654 - Calang (Kabupaten Aceh Jaya)
0655 - Meulaboh (Kabupaten Aceh Barat)
0656 - Tapaktuan (Kabupaten Aceh Selatan)
0657 - Bakongan (Kabupaten Aceh Selatan)
0658 - Singkil (Kabupaten Aceh Singkil)
0659 - Blangpidie (Kabupaten Aceh Barat Daya)

Kisah Putroe Neng Dengan 100 Suami

Kisah Putroe Neng Dengan 100 Suami - Nian Nio Lian Khie begitulah nama aslinya, Seorang komandan perang wanita berpangkat Jenderal dari china budha, Seorang perempuan yang dikalahkan oleh pasukan meurah johan seorang ulama yang berasal dari kerajaan pereulak yang pada saat itu mereka berada di indra purba yang bercocok tanam di daerah maprai (sibreh sekarang) dan mereka membuka kebun lada dan merica pada saat itu setelah dikalahkan, jenderal Nian Nio Lian Khie memeluk islam dan namanya diberi gelar yaitu sebagai Putroe Neng



Kekalahan dalam peperangan di Kuta Lingke telah mengubah sejarah hidup Putroe Neng, perempuan cantik dari Negeri Tiongkok. Dari seorang maharani yang ingin menyatukan sejumlah kerajaan di Pulau Ruja (Sumatera), ia malah menjadi permaisuri dalam sebuah pernikahan politis. Pendiri Kerajaan Darud Donya Aceh Darussalam, Sultan Meurah Johan, menjadi suami pertama Putroe Neng yang kemudian juga menjadi lelaki pertama yang meninggal di malam pertama. Tubuh Sultan Meurah Johan ditemukan membiru setelah melewati percintaan malam pertama yang selesai dalam waktu begitu cepat.

Sebagian masyarakat Aceh mendengar kisah Putroe Neng dari penuturan orang tua. Konon Putroe Neng memiliki 100 suami dari kalangan bangsawan Aceh. Setiap suami meninggal pada malam pertama ketika mereka bercinta, karena alat kewanitaan Putroe Neng mengandung racun. Kematian demi kematian tidak menyurutkan niat para lelaki untuk memperistri perempuan itu. Padahal, tidak mudah bagi Putroe Neng untuk menerima pinangan setiap lelaki. Ia memberikan syarat berat seperti mahar yang tinggi atau pembagian wilayah kekuasaan (Ali Akbar, 1990).

Suami terakhir Putroe Neng adalah Syekh Syiah Hudam yang selamat melewati malam pertama dan malam-malam berikutnya. Ia adalah suami ke-100 dari perempuan cantik bermata sipit tersebut. Sebelum bercinta dengan Putroe Neng, Syiah Hudam berhasil mengeluarkan bisa dari alat genital Putroe Neng. Racun tersebut dimasukkan ke dalam bambu dan dipotong menjadi dua bagian. "Satu bagian dibuang ke laut, dan bagian lainnya dibuang ke gunung," tutur penjaga makam Putroe Neng, Cut Hasan.

Konon, Syiah Hudam memiliki mantra penawar racun sehingga ia bisa selamat. Setelah racun tersebut keluar, cahaya kecantikan Putroe Neng meredup. Sampai kematiannya, dia tidak mempunyai keturunan. Sulit mencari referensi tentang Putroe Neng. Sejumlah buku menyebutkan dia bernama asli Nian Nio Liang Khie, seorang laksamana dari China yang datang ke Sumatera untuk menguasai sejumlah kerajaan. Bersama pasukannya, ia berhasil menguasai tiga kerajaan kecil; Indra Patra, Indra Jaya, dan Indra Puri yang kini masuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar. Beberapa benteng bekas ketiga kerajaan tersebut masih ada di Aceh Besar sampai sekarang.

Namun, Laksamana Nian Nio kalah ketika hendak menaklukkan Kerajaan Indra Purba yang meminta bantuan kepada Kerajaan Peureulak. Bantuan yang diberikan Kerajaan Peureulak adalah pengiriman tentara yang tergabung dalam Laskar Syiah Hudam pimpinan Syekh Abdullah Kana'an. Jadi, Syiah Hudam sesungguhnya adalah nama angkatan perang yang menjadi nama populer Abdullah Kana'an. Merujuk sejarah, pengiriman bala bantuan itu terjadi pada 1180 Masehi. Bisa disimpulkan pada masa itulah Putroe Neng hidup, tetapi tak diketahui pasti kapan meninggal dan bagaimana sejarahnya sampai makamnya terdapat di Desa Blang Pulo, Lhokseumawe.


Meski tak bisa menunjukkan makamnya, di mata Cut Hasan kematian 99 suami Putroe Neng bukanlah mitos. Ia mengaku mengalami beberapa hal gaib selama menjadi penjaga makam. Ia bermimpi berjumpa dengan Putroe Neng dan dalam mimpi itu diberikan dua keping emas. Paginya, Cut Hasan benar-benar menemukan dua keping emas berbentuk jajaran genjang dengan ukiran di setiap sisinya. Satu keping dipinjam seorang peneliti dan belum dikembalikan. Sementara satu keping lagi masih disimpannya sampai sekarang.

Menurut budayawan Aceh, Syamsuddin Djalil alias Ayah Panton, kisah kematian 99 suami hanya legenda meski nama Putroe Neng memang ada. Menurutnya, kematian itu adalah tamsilan bahwa Putroe Neng sudah membunuh 99 lelaki dalam peperangan di Aceh."Sulit ditelusuri dari mana muncul kisah tentang kemaluan Putroe Neng mengandung racun," ujar Syamsuddin Jalil saat ditemui di rumahnya di Kota Pantonlabu, Aceh Utara, Selasa (26/4). Ali Akbar yang banyak menulis buku sejarah Aceh, juga mengakui kisah kematian 99 lelaki itu hanyalah legenda.





Makam Putroe Neng yang terletak di pinggir Jalan Medan-Banda Aceh (trans-Sumatera), memang sarat dengan kisah gaib. Misalnya, ada kisah seorang guru SMA yang meninggal setelah mengambil foto di makam tersebut. Ada juga yang mengaku melihat siluet putih dalam foto tersebut atau foto yang diambil tidak memperlihatkan gambar apa pun. Sayangnya, berbagai kisah gaib itu, plus legenda kematian 99 suami Putroe Neng pada malam pertama, tidak menjadikan makam tersebut menjadi lokasi wisata religi sebagaimana makam Sultan Malikussaleh di Desa Beuringen Kecamata Samudera, Aceh Utara.

Pemerintah Kota Lhokseumawe belum menjadikan makam Putroe Neng sebagai lokasi kunjungan wisata. Suvenir tentang Putroe Neng tidak ada sama sekali. Para pengunjung yang datang ke makamnya hanya sebatas peneliti dan segelintir masyarakat yang pernah mendengar kisah Putroe Neng. Rendahnya kepedulian terhadap makam Putroe Neng, bisa terlihat dari kondisi makam tersebut yang nyaris tak terawat. Di dalam komplek berukuran sekitar 20 x 20 meter tersebut, terdapat 11 makam, termasuk milik Putroe Neng tetapi selebihnya tidak diketahui milik siapa.

Menurut Teungku Taqiyuddin, seorang peneliti yang getol menggali sejarah Kerajaan Samudera Pasai, dari tulisan yang terdapat di batu nisan, diyakini makam-makam tersebut milik ulama syiah. Lantas, benarkah makam yang selama ini diyakini milik Putroe Neng sahih adanya?

Teungku Taqiyuddin mengaku belum mendapatkan jawaban sehingga keyakinan masyarakat tentang kebenaran makam tersebut belum bisa dipatahkan. "Siapa tahu dengan banyaknya penelitian nanti akan terjawab," kata Teungku Taqiyuddin. Menurutnya, bisa jadi karena ada makam Putroe Neng di sana, kemudian berkermbang cerita tentang kematian 99 suami atau bisa saja kisah itu sudah melegenda sejak lama. Sekitar 200 meter arah selatan makam Putroe Neng, terdapat makam suami ke-100, Syiah Hudam yang terletak di atas bukit perbukitan. Jalan menuju Makam Syiah Hudam sangat tersembunyi, sehingga pengunjung harus bertanya kepada masyarakat setempat karena tidak ada penunjuk jalan. Program Visit Aceh 2011 yang digaungkan Pemerintah Aceh ternyata tidak didukung dengan perbaikan infrastruktur.